Cukuplah Allah bagiku, tiada tuhan selain Dia, untukMu tawakalku, dan Dia Rabbi arasy yang agung

Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.
Yang mengajari dengan perantaraan pena.
Dia mengajari manusia apa yang belum diketahuinya

Ayat ini mengingatkan kita untuk terus membaca, menambah pengetahuan dengan segala akibatnya. Benarkah pencarian iman melalui bacaan berbahaya?
Google
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Saturday, February 19, 2011

Idul Fitri Tidak Ada Hubungannya Dengan Fitrah

Menyambung dari postingan saya Hari Raya Selesai Puasa

Saya sudah dapat kata lain dari fitr yang sering dikutip untuk memaknai idul fitri di Indonesia, ternyata kata itu adalah fitrah, atau fitrat. Saya selalu search dengan kata fithr, gak ketemu-ketemu!

Idul Fitri 1431H

fitrah artinya
Bentuk natural atau naluri dari binatang, manusia atau sesuatu. Hal ini digunakan dalam hukum Islam untuk merujuk kepada hukum yang melengkapi atau mendorong suatu naluri tertentu - misalnya kebersihan (The normal nature or instinct of a person, animal or thing. It is used in Islamic law to refer to laws that complement or promote a certain instinct - eg cleanliness).
Asal kata adalah f-th-r-h.
Keterangan tentang fitra di wikipedia bisa dibaca disini.


Bandingkan dengan fitr yang bentuk awalnya 'a-f-th-a-r yang artinya
Membatalkan puasa. Dimulainya makan sesudah matahari terbenam - terutama selama ramadhan (Breaking the fast. Beginning to eat after the sun sets - especially during ramadhan).

Jadi kedua-duanya itu memang kalau ditulis dengan bahasa Indonesia adalah ifthar dan fithrah, karena dalam penulisan bahasa arab ke Inggris mereka tidak membedakan t dengan th, jadi kalau search dengan fithr yang keluar dari laman-laman berbahasa Indonesia dan Malaysia.

Tentu saja idul fitri tidak ada di al Quran. Kata fitrah ini muncul di al quran dalam surat ar Rum 30:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada diin; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Diin yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Dapat dilihat bahwa laman-laman selain bahasa Indonesia membahas iedul fithri dengan makna iftar, kalau dalam laman berbahasa indonesia dengan makna fitrah. Ini menarik, bukan?

Hadist tentang fitrah yang saya temukan tentang fitrah bersuci, anak terlahir dalam keadaan fitrah, kewajiban tentang zakat fitrah (fitrah disini saya beri garis miring karena dalam hadist berbahasa inggris yang dimaksud adalah fithr-buka puasa-, bukan fithrah).

Hadist tentang fithr bisa ditemukan disini. Disitu terdapat kata yang diucapkan ketika idul fithri yaitu may Allah accept from us and from you - Semoga Allah menerima dari kami dan darimu, yang bahasa arabnya: taqabalallahu minna wa minkum.

Hal yang paling mendekati dari keyakinan muslim Indonesia tentang pensucian pada hari itu adalah hadist tentang zakat fithr, Ibn abbas berkata:
"Rasul Allah (SAW) memerintahkan Zakat al-Fitr bagi yang berpuasa untuk melindunginya dari perbuatan dan kata-kata yang tidak senonoh dan untuk tujuan menyediakan makanan bagi yang membutuhkan" (Abu Dawud dan Ibn Majah.)

Pendapat dari Prof. Dr. Nasaruddin Umar Guru Besar bidang Tafsir yang juga Pembantu Rektor III di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tentang idul fitri
Secara etimologis, Idul Fitri berarti “kembali berbuka.” Ini mungkin juga sekaligus meluruskan pemahaman kita tentang al-fitr. Selama ini, Idul Fitri diartikan “kembali ke fitrah.” Sebenarnya yang tepat adalah “kembali berbuka.” Fitr berbeda dengan fitrah. Satu fatarah, satu fitrah memakai ta’ marbutah, sedangkan al-fitr dalam kata Idul Fitri tidak memakai ta’ marbutah.

Saya tidak mendapati hadist yang menghubungkan idul fitri ini dengan fithrah, ataupun tentang pensucian diri.

Dari hasil penelusuran ini saya semakin yakin bahwa berpuasa itu bukan untuk mensucikan diri ataupun bermaaf-maafan seperti yang selama ini Muslim Indonesia kenali. Hal itu tidak tercantum dalam al quran dan hadist. Itu sebabnya salam: 'Mohon maaf lahir (zahir) dan bathin' itu hanya ada di Indonesia, Singapur, Malaysia dan Brunei tetapi tidak dikenal di dunia islam yang lain.

Tentu saja saling memaafkan itu hal yang bagus, dan kalau mau melakukannya pada hari Idul fitri tidak ada salahnya menurut saya.

Pemahaman yang cukup riskan adalah mengenai pensucian dosa. Kemungkinan untuk mendapat pemutihan dosa setiap tahun cukup berbahaya, menurutku. Umat yang meyakininya akan melakukan dosa dengan lebih lega, mengingat bahwa dosanya sudah hilang setiap lebaran. Dan juga, bahwa barangkali keyakinan ini lebih dekat dengan keyakinan umat Yahudi pada Yom kippur (hari penebusan dan pertobatan) dimana Tuhan menutup buku dosa dan membuka lembaran buku yang baru.

Tambahan:
Tentang penghilangan dosa saya sudah dapat hadistnya
Hadist riwayat Ahmad, al-Bukhari dan Muslim, begitu juga dengan Ashab al-Sunan, yang maknanya: “Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisab, nescaya diampun baginya dosa yang terdahulu”.

Ooo begitu, pantesan cari-cari di hadist tentang idul fitri gak ketemu. Yah begitulah, menurutku sih keyakinan tentang puasa dan penghilangan dosa ini agak berbahaya. Harap maklum, saya bukan pengiman hadist.

No comments:

Post a Comment

Google